Langit
pagi ini tak terlihat secerah kemarin, awannya membentuk gumpalan-gumpalan
hitam yang menandakan hujan akan turun sebentar lagi. Ditemani secangkir teh
manis hangat, pandanganku melayang jauh menelisik teduhnya pepohonan dari teras
rumah. Lingkaran kuning keemasan yang memeluk jari manis, kuputar-putar.
Pikiranku melayang
menembus batas realita. Teringat aku saat kita beradu mulut tentang hujan dan
matahari dibawah pohon roda ditepi danau. Tak ada yang mau mengalah, aku tetap
pada pendapatku dan kau pun begitu juga.
“Sebentar lagi pasti
matahari yang akan muncul dari balik pohon itu”, ucapku.
“Gak mungkin… lihat saja, awan hitam itu makin mengepul”, tukasnya tak membenarkan perkataanku.
“Sebentar lagi angin juga akan menerbangkan awan hitam itu pergi dan membiarkan matahari yang menggantikannya…”, ucapku lagi.
“Gak mungkin… lihat saja, awan hitam itu makin mengepul”, tukasnya tak membenarkan perkataanku.
“Sebentar lagi angin juga akan menerbangkan awan hitam itu pergi dan membiarkan matahari yang menggantikannya…”, ucapku lagi.
“Gak akan….!!!
Halilintar itu tlah menggembar-gembur dimana-mana, awan hitam juga tlah bersatu, sebentar lagi
ia akan turun”. Dia tetap pada pendapatnya, pun aku juga.
“Mendung tak berarti hujan, matahari yang akan muncul….!!!, ikkhh”.
“Mendung tak berarti hujan, matahari yang akan muncul….!!!, ikkhh”.
“Tidak!!, hujan….”.
tetap pada pendapatnya.
“Matahari…!!! isshh”
“Hujan…”
“Matahari… hhgg”, aku mulai geram, sambil menatapnya tajam.
“Matahari… hhgg”, aku mulai geram, sambil menatapnya tajam.
David menarikku tepat ke
pinggir danau rindu, itulah sebutan untuk danau yang kami jadikan tempat untuk
melepaskan penat setelah seharian beraktifitas.
“Dihitungan ketiga,
hujan pasti akan turun. Satu… dua… tiga…”, katanya. Tak lama setelah itu,
akhirnya rintik hujan mulai turun membasahi kami yang tepat berada di tepi
danau. “lihat Fi… hujan kan…??”
Bibirku tak berhenti
bersengutan, aku berbalik dan lari untuk menepi dibawah pohon roda itu. Tapi
tiba-tiba david menahanku untuk tetap disini. Dia menarik tanganku kembali
untuk merasakan hujan yang turun ini.
“Aku tak suka hujan….!!
Aku ingin hanya matahari yang mengiasi hari. Hmm”
“Hey Ifi… bumi ini tak akan baik bila tanpa hujan….!!!”
“Hey Ifi… bumi ini tak akan baik bila tanpa hujan….!!!”
“Bila hujan, aku tak
dapat melakukan apa-apa. Hanya berdiam saja. Kalau matahari yang muncul, aku
dapat melakukan apapun yang kumau..”, ucapku.
“Kamu salah Fi,, kata
siapa bila hujan kita tak dapat melakukan apapun. Bisa… sama seperti saat
matahari yang hadir…., hujan dan matahari itu terkait. Bumi tidak akan seindah
ini tanpa mereka, kita juga tidak akan bisa hidup sekuat ini tanpa mereka.
Mereka itu satu”. Aku tertunduk, dan membenarkan dalam hati tentang apa yang
dikatakan David barusan. Dan tanpa terasa, hujan mulai berhenti.
“Lihat kearah sana Fi…
!!!”, matahari dengan indahnya muncul dibalik awan yang masih basah dan
membiaskan warna-warna indah berbentuk setengah lingkaran.
“Waaahhh…..!!!!”
“Kau lihat itu,, inilah kenapa aku ingin kau tetap disini. Aku ingin memperlihatkan keindahan seperti ini setelah hujan dan berkat cahaya matahari. Karena tanpa mereka tidak akan ada pelangi,”. Ucapnya
“Kau lihat itu,, inilah kenapa aku ingin kau tetap disini. Aku ingin memperlihatkan keindahan seperti ini setelah hujan dan berkat cahaya matahari. Karena tanpa mereka tidak akan ada pelangi,”. Ucapnya
“Hmmm….., maafin aku
yah..??”
“Untuk apa???”
“Untuk keras kepalaku..”
“Haaaaha… sudahlah…. J”. Sambil mengusap-usap kepalaku.
Dia David, dia temanku
sejak SMA hingga sekarang. Kami memang seperti itu, walau terkadang tak sepaham
tapi tetap saja kami satu. Rasa nyaman selalu saja hadir bila aku sedang
bersamanya, walau sering berbeda pendapat. Tapi dia tetap sahabatku.
Kembali kuteguk teh
hangat didepanku. Secuil senyum tersimpul saat aku mengingat saat-saat itu.
Lamunanku terhenyak ketika aku melihat jam yang telah menunjukkan pukul 7 pagi.
Tetapi hujan tak menampakkan tanda untuk berhenti. Aku harus pergi sekarang.
Hujan…
kau masih saja menemaniku. Dentuman rinaimu berulang kali menimpah, tepat diatas benda setengah lingkaran dikepalaku. Jalanan yang tadinya sepi, kini telah padat dengan kendaraan yang lalu lalang. Aku tetap saja diam dan menunggu. Aku tak bisa apa-apa…
kau masih saja menemaniku. Dentuman rinaimu berulang kali menimpah, tepat diatas benda setengah lingkaran dikepalaku. Jalanan yang tadinya sepi, kini telah padat dengan kendaraan yang lalu lalang. Aku tetap saja diam dan menunggu. Aku tak bisa apa-apa…
“Fi….
Dimana? Udah pergi? Aku jemput yah…., aku dah jalan ne!”. David mengirimkan
pesannya padaku.
“Eh,,
aku udah keluar ne…”. balasku.
“Ya
udah, tunggu di depan aja, entar aku ke situ”.
Akhirnya,
aku mendengarnya, suara itu. Yah… suaranya terdengar diriuhnya hujan yang kian
tak mau berhenti.
“Fi…
pergi sekarang kita?” Memandang dengan penuh kehangatan, sentuhannya mampu
menjinakkan suasana yang kian bergemuruh oleh riuhnya hujan.
“Eh….
Gimana yah? Masih hujan gini. Tapi nanti kita telat, pergi aja yuk?”.
“Ya
udah, naik gih…”.
Terkadang
aku berpikir, kau baik sekali. Kau adalah orang yang selalu ada buatku. Aku
selalu merindukanmu bila pesan-pesanmu tak mampir sehari saja di handphoneku.
Walau terkadang kita sering tak sependapat, yang karena itu kita juga sering
bertengkar. Aku gak mau kau pergi dariku Vid...., lamunanku terhenyak saat aku
sadar bahwa kami telah sampai dikampus. Aku dan David ada di kampus yang sama,
tetapi tidak untuk jurusan yang kami ambil. “Vid…. Aku duluan yah?”
“Ya
udah… jangan lari-lari Fi…!!!”. Dia
memarahiku karena dia melihat aku hampir jatuh saat berlari. Dia tak pernah
berkata apapun tentang perasaannya, tapi aku tahu kalau dia menyayangiku.
****
Kali
ini, mungkin hujan tak ingin menjatuhkan indah rinainya itu. Karena akan
digantikan matahari yang telah bersiap tersenyum disebelah timur sana. Dan aku
harap matahari hari ini mampu menghangatkan semuanya.
Matanya
tertuju padaku, tanpa alasan. Dia mendekat tapi tak melihat. Aku hanya
mendengar ucapannya. “cepat fi,,, kalau nanti gak ada hubungi aku ya?”, itu
katanya. Terdiam, kaget. Senyum tiba-tiba menghiasi bibir ini, dan saat aku
berbalik melihatmu, kau sudah tak ada.
Disepanjang
jalan yang kulewati, tampak begitu indah walau sampah bertebaran. Begitu sejuk
walau tak ada angin bertiup. Semuanya jadi kelihatan lebih, lebih indah dari
yang sebenarnya. Senyum tak henti bermekar dari sudut mataku. Aku tak lagi
was-was untuk hal yang sebenarnya keadaan seperti ini yang selalu membuat hati
menjadi gusar.
“Vid,
ga ada?”. Pesan yang kukirim padanya.
“Tunggu,
sebentar lagi aku ke sana”, balasnya. Kali ini aku berniat buat ungkapin rasa
yang terus saja membesar didalam hatiku. Aku mau bilang kalau “aku
menyayangimu”, yah… aku sayang padanya, David. Aku harus bilang ini, sekarang!
Akhirnya
dia datang. “hey Fi, yok?, udah makan belum?, kita makan dulu yah….”, ajaknya.
“Ayok,…”,ini adalah saat yang tepat untuk aku ungkapin semua.
“Ayok,…”,ini adalah saat yang tepat untuk aku ungkapin semua.
“Mau
makan apa Ifi??”, tanyanya.
“Apa
aja deh…”, kali ini hatiku tak seperti biasa bila dengannya. Kakiku gemetar
hebat saat aku menatap wajahnya. Bibir ini terasa kaku saat ingin berbicara
dengannya. Tapi harus sekarang, aku harus mengatakan ini sekarang.
“Vidd…..!!,
aku mau ngomong sesuatu nih samamu??”, ucapku gemetar.
“Ngomong
apa Fi…., omongin ajah. Gak biasanya kamu gini, kenapa?”. Tanyanya heran.
Dada ini serasa ingin menjatuhkan sesuatu yang ada didalamnya, tanganku tak berhenti memutar-mutar lingkaran kuning keemasan yang tersemat dijariku sendiri. Tapi keinginan untuk mengatakannya semakin memuncah.
Dada ini serasa ingin menjatuhkan sesuatu yang ada didalamnya, tanganku tak berhenti memutar-mutar lingkaran kuning keemasan yang tersemat dijariku sendiri. Tapi keinginan untuk mengatakannya semakin memuncah.
“Vid,,,
aku menyayangimu?”. Ucapku lirih.
“Aku
sudah tahu, kamu juga sering bilang ini kan…!!”. Jawabnya santai.
“Tapi
ini lebih, lebih dari sahabat…..!”, tak terasa dia menjatuhkan handphonenya
saat aku mengatakan itu. Dia terkejut, dan tak berhenti menatapku. Dan aku
hanya bisa tertunduk, tak ada satupun kata yang keluar dari bibirnya, dia hanya
terdiam.
“Maafkan
aku bila punya rasa yang lebih ini….. L”, lalu aku
langsung pergi meninggalkannya, dan dia tetap pada diamya.
Kali
ini, hujan dan matahari punya ingin yang sama. Mereka tak mau mengalah.
Keduanya ingin memberikan tangisan dan kehangatanya secara bersamaan. Hingga
hal yang mereka inginkan pun terjadi. Hujan dan panas menghiasi hari kali ini.
Aku tak tau apa yang mereka rasa, hanya aku, hujan dan matahari yang menduduki
batu ditaman sembab didepan gedung berlantai tiga yang biasa orang-orang sebut
“Dibawah Pohon Rindang”. Aku tak mau pergi dari sini. Walau hujan dan matahari
pergi, aku akan tetap disini. Menunggu, aku menunggu janji yang kita buat
seminggu yang lalu sebelum aku mengatakan hal itu, berjanji untuk mengerjakan
tugas bareng.
Hujan
dan matahari tak bosan menemaniku, sama sepertiku. Aku jua tak bosan. Menunggu.
“aku tak suka menunggu dan aku tak bisa membiarkan orang lain menungguku,
karena keduanya akan menimbulkan ketidaktenangan”, ucapmu waktu itu. lalu
sekarang….??!! Ahh sudahlah…. Mungkin kamu lupa. Atau kamu memang tak
mengingatnya. Atau mungkin karena perkataanku kemarin, kalau aku menyayangimu.
Apa karena ini??
“Udah
dimana Vid???, aku udah lama disini…..”, ku kirim pesan padanya, tapi tak ada
jawaban yang kuterima. Akhirnya aku menyerah,, lebih dari 5 jam aku menunggumu
disini, ditempat yang kita janjikan seminggu yang lalu. Tapi tetap saja dia tak
hadir untuk menepati janjinya, jangankan kamu, kabarpun tak sampai.
Sejak
saat itu, hingga sekarang sudah hampir dua minggu ini kami tak saling bertemu,
bertanya kabar, jalan bareng, yang
biasanya handphoneku selalu berdering oleh telpon darinya, pesan-pesannya,
ataupun hanya sekedar pesan kosong untuk membuang gratisan. Kini sudah hampir
dua minggu namanya tak tertilis dipesan-pesanku. Aku merindukannya. Andai saja
waktu itu aku tak mengatakan apapun tentang perasaanku padanya, mungkin gak
akan seperti ini sekarang.
“Vid….
Ifi minta maaf, ifi salah telah mengatakan hal itu padamu. Seharusnya aku tak
keceplosan untuk mengatakan ini. Kita itu sahabatan, ifi salah sudah melakukan
hal yang paling sensitive ini. Ifi minta maaf… fi gak mau David jauhin…
Please!!! Maafin Fi yah….???”, pesan maaf yang kukirimkan padanya. Sudah entah
berapa kali pesan itu ku kirim untuknya, tapi tetap saja tak ada balasan apapun
darinya. Setelah beberapa hari pesan itu kukirim. Ia mengirimkan pesan padaku
untuk menemuinya besok didanau Rindu setelah pulang kampus. Aku terkejut, dan
aku gak akan menyia-nyiakan kesempatan ini untuk berucap maaf langsung padanya.
***
Aku sudah berada disana satu jam
sebelum jam yang ia janjikan padaku. Aku tak mau bila ia melihatku yang
terlambat sekarang. Padahal aku adalah orang yang selalu terlambat datang bila
kami ingin bertemu. Aku duduk tepat dibawah pohon roda, tempat yang sering kami
jadikan sandaran untuk melepas penat saat seharian beraktifitas, hingga tak
terasa aku memejamkan mataku hingga aku terlelap dan tanpa sadarku, saat aku
terbangun ternyata David telah berada disampingku, yang saat itu hujan gerimis
datang.
“Nyenyak
banget tidurnya…!!”, katanya mengejutkanku, dan membuatku salah tingkah.
“eh eeeh,, maaf…, aku ketiduran…”, sambil merapihkan pakaianku yang bertaburan dedaunan.
“Sudah berapa lama disini??”, tanyanya padaku.
“eh eeeh,, maaf…, aku ketiduran…”, sambil merapihkan pakaianku yang bertaburan dedaunan.
“Sudah berapa lama disini??”, tanyanya padaku.
“Ehmmm…..
sudah hampir satu jam lebih, hehehe”, sambil ku melihat jam yang ada
ditanganku. tapi aku masih saja tertunduk, dan tak berani untuk menatap
wajahnya.
“Aku
bilangkan jam 15.00, kenapa datangnya jam 14.00…??”, ucapnya.
“Karena
aku gak mau terlambat lagi disetiap kita ketemu….”, jawabku pelan. Lalu dia
mengangkat wajahku agar aku tak tertunduk lagi.
“Fi…..
maafkan aku mendiamkanmu akhir-akhir ini, aku tak bermaksud membuatmu sedih,
aku gak ingin melukai perasaanmu, maafkan aku membiarkanmu sendiri, seharusnya
aku gak seperti ini…”, ucapnya sambil menggenggam tanganku.
“Enggak….
Kamu gak salah apa-apa Vid, aku yang salah. Aku yang udah ngerusak ini semua,
aku udah menyisipkan rasa sayang yang lebih padamu. Maafkan aku yah…??
Seharusnya aku gak pernah mengatakan apaupun tentang rasa ini”. Ucapku padanya.
“Gak
ada yang salah tentang rasa itu Fi,, itu fitrah. Akan muncul pada setiap jiwa,
aku gak akan pernah salahkan itu. Aku juga menyayangimu, dan mungkin saja bisa
lebih dari ini. Tapi aku tak bisa melakukan itu… karena kau adalah sahabat
terbaikku”, tukasnya lagi.
“Mulai sekarang, aku gak mau hubungan kita lebih dari ini, sebatas ini saja sudah cukup bagiku. Karena aku gak mau kehilangan sahabat terbaikku. Meskipun kita nggak pacaran, tapi kita ini sahabat. Dan kata “sahabat” berlaku selamanya. Mungkin kalau kita pacaran, kita nggak bisa kelihatan kaya berteman. Tapi kalau kita berteman, mungkin kita bisa keliatan seperti pacaran”, ucapku lagi.
“Mulai sekarang, aku gak mau hubungan kita lebih dari ini, sebatas ini saja sudah cukup bagiku. Karena aku gak mau kehilangan sahabat terbaikku. Meskipun kita nggak pacaran, tapi kita ini sahabat. Dan kata “sahabat” berlaku selamanya. Mungkin kalau kita pacaran, kita nggak bisa kelihatan kaya berteman. Tapi kalau kita berteman, mungkin kita bisa keliatan seperti pacaran”, ucapku lagi.
“Ya udah… kalau gitu, mulai sekarang
kita ini sahabatan….”. ia mengucapkannya sambil berteriak.
“Ehmmm… kita sahabat…..!!!”, teriakku lagi.
“Ehmmm… kita sahabat…..!!!”, teriakku lagi.
Saat aku melihat keluar dari bawah
pohon, hujan sudah berhenti. Matahari bersinar dengan indahnya. Di langit
terlihat pelangi berbentuk setengah lingkaran memenuhi danau rindu. Agaknya,
hujan mengerti perasaanku.
Oleh: Nurmalinda Davinly
.jpg)
.jpg)






.jpg)
.jpg)
.jpg)




