Jumat, 31 Oktober 2014

Hujan Saja Mengerti



Langit pagi ini tak terlihat secerah kemarin, awannya membentuk gumpalan-gumpalan hitam yang menandakan hujan akan turun sebentar lagi. Ditemani secangkir teh manis hangat, pandanganku melayang jauh menelisik teduhnya pepohonan dari teras rumah. Lingkaran kuning keemasan yang memeluk jari manis, kuputar-putar.
Pikiranku melayang menembus batas realita. Teringat aku saat kita beradu mulut tentang hujan dan matahari dibawah pohon roda ditepi danau. Tak ada yang mau mengalah, aku tetap pada pendapatku dan kau pun begitu juga.

“Sebentar lagi pasti matahari yang akan muncul dari balik pohon itu”, ucapku.
“Gak mungkin… lihat saja, awan hitam itu makin mengepul”, tukasnya tak membenarkan perkataanku.
“Sebentar lagi angin  juga akan menerbangkan awan hitam itu pergi dan membiarkan matahari yang menggantikannya…”, ucapku lagi.
“Gak akan….!!! Halilintar itu tlah menggembar-gembur dimana-mana,  awan hitam juga tlah bersatu, sebentar lagi ia akan turun”. Dia tetap pada pendapatnya, pun aku juga.
“Mendung tak berarti hujan, matahari yang akan muncul….!!!, ikkhh”.
“Tidak!!, hujan….”. tetap pada pendapatnya.
“Matahari…!!! isshh”
“Hujan…”
“Matahari… hhgg”, aku mulai geram, sambil menatapnya tajam.

David menarikku tepat ke pinggir danau rindu, itulah sebutan untuk danau yang kami jadikan tempat untuk melepaskan penat setelah seharian beraktifitas.
“Dihitungan ketiga, hujan pasti akan turun. Satu… dua… tiga…”, katanya. Tak lama setelah itu, akhirnya rintik hujan mulai turun membasahi kami yang tepat berada di tepi danau. “lihat Fi… hujan kan…??”
Bibirku tak berhenti bersengutan, aku berbalik dan lari untuk menepi dibawah pohon roda itu. Tapi tiba-tiba david menahanku untuk tetap disini. Dia menarik tanganku kembali untuk merasakan hujan yang turun ini.
“Aku tak suka hujan….!! Aku ingin hanya matahari yang mengiasi hari. Hmm”
“Hey Ifi… bumi ini tak akan baik bila tanpa hujan….!!!”
“Bila hujan, aku tak dapat melakukan apa-apa. Hanya berdiam saja. Kalau matahari yang muncul, aku dapat melakukan apapun yang kumau..”, ucapku.
“Kamu salah Fi,, kata siapa bila hujan kita tak dapat melakukan apapun. Bisa… sama seperti saat matahari yang hadir…., hujan dan matahari itu terkait. Bumi tidak akan seindah ini tanpa mereka, kita juga tidak akan bisa hidup sekuat ini tanpa mereka. Mereka itu satu”. Aku tertunduk, dan membenarkan dalam hati tentang apa yang dikatakan David barusan. Dan tanpa terasa, hujan mulai berhenti.
“Lihat kearah sana Fi… !!!”, matahari dengan indahnya muncul dibalik awan yang masih basah dan membiaskan warna-warna indah berbentuk setengah lingkaran.
“Waaahhh…..!!!!”
“Kau lihat itu,, inilah kenapa aku ingin kau tetap disini. Aku ingin memperlihatkan keindahan seperti ini setelah hujan dan berkat cahaya matahari. Karena tanpa mereka tidak akan ada pelangi,”. Ucapnya
“Hmmm….., maafin aku yah..??”
“Untuk apa???”
“Untuk keras kepalaku..”
“Haaaaha… sudahlah…. J”. Sambil mengusap-usap kepalaku.

Dia David, dia temanku sejak SMA hingga sekarang. Kami memang seperti itu, walau terkadang tak sepaham tapi tetap saja kami satu. Rasa nyaman selalu saja hadir bila aku sedang bersamanya, walau sering berbeda pendapat. Tapi dia tetap sahabatku.
Kembali kuteguk teh hangat didepanku. Secuil senyum tersimpul saat aku mengingat saat-saat itu. Lamunanku terhenyak ketika aku melihat jam yang telah menunjukkan pukul 7 pagi. Tetapi hujan tak menampakkan tanda untuk berhenti. Aku harus pergi sekarang.

Hujan…
kau masih saja menemaniku. Dentuman rinaimu berulang kali menimpah, tepat diatas benda setengah lingkaran dikepalaku. Jalanan yang tadinya sepi, kini telah padat dengan kendaraan yang lalu lalang. Aku tetap saja diam dan menunggu. Aku tak bisa apa-apa…
“Fi…. Dimana? Udah pergi? Aku jemput yah…., aku dah jalan ne!”. David mengirimkan pesannya padaku.
“Eh,, aku udah keluar ne…”. balasku.
“Ya udah, tunggu di depan aja, entar  aku ke situ”.
Akhirnya, aku mendengarnya, suara itu. Yah… suaranya terdengar diriuhnya hujan yang kian tak mau berhenti.
“Fi… pergi sekarang kita?” Memandang dengan penuh kehangatan, sentuhannya mampu menjinakkan suasana yang kian bergemuruh oleh riuhnya hujan.
“Eh…. Gimana yah? Masih hujan gini. Tapi nanti kita telat, pergi aja yuk?”.
“Ya udah, naik gih…”.

Terkadang aku berpikir, kau baik sekali. Kau adalah orang yang selalu ada buatku. Aku selalu merindukanmu bila pesan-pesanmu tak mampir sehari saja di handphoneku. Walau terkadang kita sering tak sependapat, yang karena itu kita juga sering bertengkar. Aku gak mau kau pergi dariku Vid...., lamunanku terhenyak saat aku sadar bahwa kami telah sampai dikampus. Aku dan David ada di kampus yang sama, tetapi tidak untuk jurusan yang kami ambil. “Vid…. Aku duluan yah?”
“Ya udah…  jangan lari-lari Fi…!!!”. Dia memarahiku karena dia melihat aku hampir jatuh saat berlari. Dia tak pernah berkata apapun tentang perasaannya, tapi aku tahu kalau dia menyayangiku.
****
Kali ini, mungkin hujan tak ingin menjatuhkan indah rinainya itu. Karena akan digantikan matahari yang telah bersiap tersenyum disebelah timur sana. Dan aku harap matahari hari ini mampu menghangatkan semuanya.
Matanya tertuju padaku, tanpa alasan. Dia mendekat tapi tak melihat. Aku hanya mendengar ucapannya. “cepat fi,,, kalau nanti gak ada hubungi aku ya?”, itu katanya. Terdiam, kaget. Senyum tiba-tiba menghiasi bibir ini, dan saat aku berbalik melihatmu, kau sudah tak ada.
Disepanjang jalan yang kulewati, tampak begitu indah walau sampah bertebaran. Begitu sejuk walau tak ada angin bertiup. Semuanya jadi kelihatan lebih, lebih indah dari yang sebenarnya. Senyum tak henti bermekar dari sudut mataku. Aku tak lagi was-was untuk hal yang sebenarnya keadaan seperti ini yang selalu membuat hati menjadi gusar.
“Vid, ga ada?”. Pesan yang kukirim padanya.
“Tunggu, sebentar lagi aku ke sana”, balasnya. Kali ini aku berniat buat ungkapin rasa yang terus saja membesar didalam hatiku. Aku mau bilang kalau “aku menyayangimu”, yah… aku sayang padanya, David. Aku harus bilang ini, sekarang!
Akhirnya dia datang. “hey Fi, yok?, udah makan belum?, kita makan dulu yah….”, ajaknya.
“Ayok,…”,ini adalah saat yang tepat untuk aku ungkapin semua.
“Mau makan apa Ifi??”, tanyanya.
“Apa aja deh…”, kali ini hatiku tak seperti biasa bila dengannya. Kakiku gemetar hebat saat aku menatap wajahnya. Bibir ini terasa kaku saat ingin berbicara dengannya. Tapi harus sekarang, aku harus mengatakan ini sekarang.
“Vidd…..!!, aku mau ngomong sesuatu nih samamu??”, ucapku gemetar.
“Ngomong apa Fi…., omongin ajah. Gak biasanya kamu gini, kenapa?”. Tanyanya heran.
Dada ini serasa ingin menjatuhkan sesuatu yang ada didalamnya, tanganku tak berhenti memutar-mutar lingkaran kuning keemasan yang tersemat dijariku sendiri. Tapi keinginan untuk mengatakannya semakin memuncah.
“Vid,,, aku menyayangimu?”. Ucapku lirih.
“Aku sudah tahu, kamu juga sering bilang ini kan…!!”. Jawabnya santai.
“Tapi ini lebih, lebih dari sahabat…..!”, tak terasa dia menjatuhkan handphonenya saat aku mengatakan itu. Dia terkejut, dan tak berhenti menatapku. Dan aku hanya bisa tertunduk, tak ada satupun kata yang keluar dari bibirnya, dia hanya terdiam.
“Maafkan aku bila punya rasa yang lebih ini….. L”, lalu aku langsung pergi meninggalkannya, dan dia tetap pada diamya.

Kali ini, hujan dan matahari punya ingin yang sama. Mereka tak mau mengalah. Keduanya ingin memberikan tangisan dan kehangatanya secara bersamaan. Hingga hal yang mereka inginkan pun terjadi. Hujan dan panas menghiasi hari kali ini. Aku tak tau apa yang mereka rasa, hanya aku, hujan dan matahari yang menduduki batu ditaman sembab didepan gedung berlantai tiga yang biasa orang-orang sebut “Dibawah Pohon Rindang”. Aku tak mau pergi dari sini. Walau hujan dan matahari pergi, aku akan tetap disini. Menunggu, aku menunggu janji yang kita buat seminggu yang lalu sebelum aku mengatakan hal itu, berjanji untuk mengerjakan tugas bareng.
Hujan dan matahari tak bosan menemaniku, sama sepertiku. Aku jua tak bosan. Menunggu. “aku tak suka menunggu dan aku tak bisa membiarkan orang lain menungguku, karena keduanya akan menimbulkan ketidaktenangan”, ucapmu waktu itu. lalu sekarang….??!! Ahh sudahlah…. Mungkin kamu lupa. Atau kamu memang tak mengingatnya. Atau mungkin karena perkataanku kemarin, kalau aku menyayangimu. Apa karena ini??
“Udah dimana Vid???, aku udah lama disini…..”, ku kirim pesan padanya, tapi tak ada jawaban yang kuterima. Akhirnya aku menyerah,, lebih dari 5 jam aku menunggumu disini, ditempat yang kita janjikan seminggu yang lalu. Tapi tetap saja dia tak hadir untuk menepati janjinya, jangankan kamu, kabarpun tak sampai.

Sejak saat itu, hingga sekarang sudah hampir dua minggu ini kami tak saling bertemu, bertanya kabar, jalan bareng, yang biasanya handphoneku selalu berdering oleh telpon darinya, pesan-pesannya, ataupun hanya sekedar pesan kosong untuk membuang gratisan. Kini sudah hampir dua minggu namanya tak tertilis dipesan-pesanku. Aku merindukannya. Andai saja waktu itu aku tak mengatakan apapun tentang perasaanku padanya, mungkin gak akan seperti ini sekarang.
“Vid…. Ifi minta maaf, ifi salah telah mengatakan hal itu padamu. Seharusnya aku tak keceplosan untuk mengatakan ini. Kita itu sahabatan, ifi salah sudah melakukan hal yang paling sensitive ini. Ifi minta maaf… fi gak mau David jauhin… Please!!! Maafin Fi yah….???”, pesan maaf yang kukirimkan padanya. Sudah entah berapa kali pesan itu ku kirim untuknya, tapi tetap saja tak ada balasan apapun darinya. Setelah beberapa hari pesan itu kukirim. Ia mengirimkan pesan padaku untuk menemuinya besok didanau Rindu setelah pulang kampus. Aku terkejut, dan aku gak akan menyia-nyiakan kesempatan ini untuk berucap maaf langsung padanya.
***
         



   Aku sudah berada disana satu jam sebelum jam yang ia janjikan padaku. Aku tak mau bila ia melihatku yang terlambat sekarang. Padahal aku adalah orang yang selalu terlambat datang bila kami ingin bertemu. Aku duduk tepat dibawah pohon roda, tempat yang sering kami jadikan sandaran untuk melepas penat saat seharian beraktifitas, hingga tak terasa aku memejamkan mataku hingga aku terlelap dan tanpa sadarku, saat aku terbangun ternyata David telah berada disampingku, yang saat itu hujan gerimis datang.
“Nyenyak banget tidurnya…!!”, katanya mengejutkanku, dan membuatku salah tingkah.
“eh eeeh,, maaf…, aku ketiduran…”, sambil merapihkan pakaianku yang bertaburan dedaunan.
“Sudah berapa lama disini??”, tanyanya padaku.
“Ehmmm….. sudah hampir satu jam lebih, hehehe”, sambil ku melihat jam yang ada ditanganku. tapi aku masih saja tertunduk, dan tak berani untuk menatap wajahnya.
“Aku bilangkan jam 15.00, kenapa datangnya jam 14.00…??”, ucapnya.
“Karena aku gak mau terlambat lagi disetiap kita ketemu….”, jawabku pelan. Lalu dia mengangkat wajahku agar aku tak tertunduk lagi.
“Fi….. maafkan aku mendiamkanmu akhir-akhir ini, aku tak bermaksud membuatmu sedih, aku gak ingin melukai perasaanmu, maafkan aku membiarkanmu sendiri, seharusnya aku gak seperti ini…”, ucapnya sambil menggenggam tanganku.
“Enggak…. Kamu gak salah apa-apa Vid, aku yang salah. Aku yang udah ngerusak ini semua, aku udah menyisipkan rasa sayang yang lebih padamu. Maafkan aku yah…?? Seharusnya aku gak pernah mengatakan apaupun tentang rasa ini”. Ucapku padanya.
“Gak ada yang salah tentang rasa itu Fi,, itu fitrah. Akan muncul pada setiap jiwa, aku gak akan pernah salahkan itu. Aku juga menyayangimu, dan mungkin saja bisa lebih dari ini. Tapi aku tak bisa melakukan itu… karena kau adalah sahabat terbaikku”, tukasnya lagi.
“Mulai sekarang, aku gak mau hubungan kita lebih dari ini, sebatas ini saja sudah cukup bagiku. Karena aku gak mau kehilangan sahabat terbaikku.
Meskipun kita nggak pacaran, tapi kita ini sahabat. Dan kata “sahabat” berlaku selamanya. Mungkin kalau kita pacaran, kita nggak bisa kelihatan kaya berteman. Tapi kalau kita berteman, mungkin kita bisa keliatan seperti  pacaran”, ucapku lagi.
“Ya udah… kalau gitu, mulai sekarang kita ini sahabatan….”. ia mengucapkannya sambil berteriak.
“Ehmmm… kita sahabat…..!!!”, teriakku lagi.
Saat aku melihat keluar dari bawah pohon, hujan sudah berhenti. Matahari bersinar dengan indahnya. Di langit terlihat pelangi berbentuk setengah lingkaran memenuhi danau rindu. Agaknya, hujan mengerti perasaanku.

Oleh: Nurmalinda Davinly


Happy birtday to me, happy birtday to me, happy birtday happy birtday happy birtday to me....
Alhamdulillah... barakillahu fi umuruki ya saya....
Hari ini adalah hari ke 22 tahunnya hari kelahiranku terulang. ehmmm,,,, wahhh sudah banyak ya angkanya. mudah2an, diumurku yang bertambah 1 tahun dari 21 ini berkah, di beri kelancaran dalam segala hal. dimudahkan jalannya, dilancarkan rizkinya, bisa ngebanggain orang tuaku, selalu dalam lindungan_Nya.
terima kasih buat semua sahabat-sahabatku yang telah memberikan banyak doa yang sungguh luar biasa, yang membuat aku termotivasi untuk lebih beriman kepada_Mu ya Rabb..
Buat keluarga baruku di SMP IT Al-Hijrah, kalian adalah penyemangatku dalam menambah keimananku, kalian menjadi pengobat hati kala aku kembali jatuh, ustad dan ustadzah yang selalu mmberikan kekuatan lagi dan lagi, sahabat-sahabatku sepejuangan di PPL2 ini, sungguh luar biasa kalian. terima kasih ya Allah... engkau telah memberikan padaku keluarga yang selalu taat pada_Mu. semoga aku mengikut dengan keimanan mereka... aaaamiin..........

Kamis, 25 September 2014

Sedikit Bukti Tulisku, :D

Hal yang gak pernah aku bayangin sebelumnya, tulisankku dibukuin... yeeeee.... :D
seneng banget rasanya. itu pertanda bahwa apapun yang aku tulis masih ada yang menilai baik.. ini ni beberapa hasilnya walaupun gak banyak sih.....
Aku pernah ngikutin lomba cipta puisi gitu, yang ngadain itu sebuah penerbit dengan tema puisinya "Cinta Dalam Hati", nah.... aku coba buat ngikutin itu event... eh... ternyata aku masuk menjadi kontributor di buku antologi puisi Cinta Dalam Hati itu... yah... walaupun gak menang tapi inilah awalnya aku mulai semangat untuk nulis.

Mulai dari sinilah aku lebih semangat untuk nulis, apapun itu.... cerita2, puisi2, yah... yang pastinya gak sebagus mereka. Ada seseorang yang membuat aku termotivasi lagi dalam tulis menulis ini, dy selalu kasih saran, kesempatan, masukkan, motivasi yang luar biasa yang membuatku semakin ingin sepertinya.... hemmm.... makasih yaaa buat kamu yang udah beri semua yang awalnya gak ada. mungkin bukan gak ada keahlianku, hanya saja belum muncul dan gak ada yang ngemotivasi buat muncul. jadi ngerem aja deh dia di dalem. hehehehe....
ini nih salah satunya..... ini bukti sertifikat dengan cover bukunya, hehehhe..... masih antologi sih...
tapi tahu gak rasanya gimana??? seneeeeeengggg bangeeettt loh.....




Nah, ini nih ada lagi,


Ini tuh, buku antologi ke dua saya, ini gantian cerpennya. waktu itu ada event nulis gitu temanya "cinta di balik hujan", cerpen. yah... nyoba aja sih sebenernya buat ikutin salah satu tulisan yang gak seberapa ini. eh.... alhamdulillah... ternyata saya jadi kontributor lagi, walaupun gak juara. tapi sumpah yahh,,, senengnya itu loh... :D
berarti tulisanku lumayan kan... hehehe. makasih yaa buat yang udah nilai.

Terus... ada lagi nih, waktu itu ada event jugak, temanya "berdiskusi dengan sunyi". awalnya mikir... gimana yah itu, tentang apa yah... tapi akhirnya aku tahu. terus saya ngajakin temen2 satu kelas buat ikutan bareng event ini... ada 3 orang lah temen saya yang ikutan di kelas. kalo ditambah saya jadi 4. eh.... pas waktu pengumuman, ada 2 orang yg tersebut namanya di kelas saya.... termasuk saya satu dan temen saya laki-laki.... kalo dia mah, gak perlu di raguin lagi kalo tentang bakat nulisnya, saya mah... kagak ada apa2nya di banding temen saya satu ini. saya banyak belajar darinya.... maksih yaa...
ini nih cover sama sertifikatnya, heheheh. judul bukunya "Monolog Hati"


Rabu, 24 September 2014

Ini Bukan Kesalahan Kan??



Kelakar rindang itu masih berwujud
Sama seperti kisah yang terbalut oleh angin-angin yang turut
Gelak tawa merayu dedaunan itu hingga menari
Saat kau sungkilkan sedikit partikel canda terurai menjadi atom-atom keindahan

Saf, rasa ini juga tak berubah
Sejak saat mata itu kau tancapkan pada retinaku
Ini detak cinta ketika sesaat kita saling memandang wajah
Yang masih kau anggap biasa kala satu

Aku ingin memandangmu sepenuhnya
Tanpa tirai penghalang yang membentang luas dikiri kanan
Tapi, rasa yang ku punya hanya berani untuk tetap diam pada masa
Hingga satu-satu cinta tumbuh menyusuri tajamnya duri kehidupan

Salahkah bila kutitip hati ini pada sebagian kecil dihatimu?
Yang tiada sanggup ku ungkap lewat lisanku
Saf, yakinkan aku bahwa ini bukanlah sebuah kesalahan

Kesalahan telah melibatkan keterkaitan hati denganmu

Kamis, 29 Mei 2014

Bersama Sang Bayu

Waktu telah memanggil sang bayu menggerakkan sunyi
Mengisyaratkan diri yang begitu ringkih
Berbicara sendiri sambil menyeru pelan-pelan argumentasi


Berteman gelayutan ranting yang tampak tiada gigih

Sunyi, sering ku bertanya padanya tentang dunia
Tentang apapun yang ku rasa
Bermain lamunan, hingga tak sadar sudah banyak cerita yang ku bagi
Berdiskusi, mungkin ini yang sedang kami lakukan. Aku dan sunyi.

Aku tengelam dalam bayangan
Bayangan maya diri, pada kaki-kaki lamunan
Ketika sesaat nafsu menyelinap menggelinding
Ku singkap, tak ku biarkan pada saraf otakku ia menggantung
Angin, kutitipkan suara parau ini pada semilirmu
Sampaikan ia pada singgasana suci sepi-Mu
Agar kesendirianku tak berujung pilu
Hingga tak  berlama-lama ku menghitung waktu


Bumi asri, 16 April 2014

Rabu, 19 Maret 2014

Aku masih mencintaimu

Aku menjauh bukan karena aku tak menginginkan kau ada di sisi. Hanya saja, untuk sekarang aku rasa sudah cukup. Cukup untukku merasakan rasa yang aneh itu, karena semuanya itu cuma rekayasa hati saja. Entah siapa yang melakukan ini, yang ku tahu organ itu kembali sakit. Tapi, buatku itu tak mengapa. Hal itu sudah biasa kurasakan, organ itu juga tak akan terkejut bila kembali ia dihentakkan dengan sesuatu apapun itu, yang tak jarang ia pun kembali sakit. 
Walau begitu, kau adalah bagian dari hidupku, sebagian lembaran kertas hidupku selalu kutulis bersamamu. Kadang, kita bersama-sama untuk menulis kisah kita di sini. dikertas putih yang ku bawa dengan pena hitam di saku bajumu. Semuanya jadi terasa lengkap. Merinduimu itu pasti, karena aku masih mencintaimu.

Kulihat, ada prasangka dihatimu
melihat, diriku saat ini

karena terpisahkan diri
dengarkanlah hatiku yang masih tetap merinduimu

Aku masih seperti yang dulu
mencintaimu dengan rasa imanku
sampai kini, semua belum berubah sebab cintaku....
bukan karena dunia....... (karena ukhuwah)

cinta kita karna satu tubuh
yang tak terbatas jarak dan waktu
andai ada kata berpisah
cukuplah ia hanya sampai di mata....

Aku masih seperti yang dulu
mencintaimu dengan rasa imanku
sampai kini, namamu akan tetap bersemi menghiasi....
doa cinta ini...

by: Edcoustic, 
Bumi Asri, 19 maret 2014

Sabtu, 15 Maret 2014

Kuliah....

Alhamdulillahirabbil ‘Alamin…………. J
Akhirnya keinginanku yang selama ini aku selalu tunggu akhirnya telah berada di depanku, KULIAH…………… sekarang aku udah jadi mahasiswa,, ya Allah hamba sangat bersyukur dan berterimakasih banyak, Engkau telah memberikan yang aku butuhkan dan telah mengabulkan segala keinginanku, Alhamdulillah ya Allah……
          Akhirnya aku lulus di IAIN SU ( Institut Agama Islam Negeri Sumatera Utara ). Pada fakultas Tarbiyah jurusan Pendidikan Matematika, itu tu jurusan yang aku ingin2 nin tau,,, aku seneng. Disini aku menemukan berbagai orang dari berbagai karakter yang kesemuanya itu beda-beda.. wah… keren juga ne,, aku berada di kelas PMM-5. Didalamnya sungguh menyenangkan, yah walaupun pastinya ada ngaknya juga sih… tapi menurutku ini lebih baik dari SMA ku dulu… ne mereka temen-temen ku,,
 ne foto waktu mau masuk mata kuliah praktikum tahfiz alQuuran


 Kurang 2 lagi ne cowoknya, ngilang...


Ceritaku tentang kuliah belum berhenti sampai disini loh,, tunggu!!! Masih banyak lagi ne….

Di kelasku tuh ya, cewnya ada 25 orang dan cownya ada 8 orang jadi semuanya ada 33 orang,,, hehehe. Aduh……… aku bingung mau certain dari mana duluan yah, gak ngerti tau. Dari foto-foto aja yah aku nyeritainya. 

Ne tu, foto waktu akhir semester II, kami jalan2 ke pantai yang ada di daerah perbaungan.. kalo gak salah tu namanya pantai ATP mungkin,, gak terlalu jelas sih.. emang sih gak ikut semua satu kelas, tapi lumayan banyak lah, soalnya kami nyewa bus tuh……. Seruuuu baget. J hahaha :D keren kan……….???!!!

Kebersamaanku dengan teman sekelasku gak Cuma sampai disini aja yah,, masih banyak lagi tau.
Nah….. kalo yang ini. Foto waktu aku ngikuti kegiatan KKM yang diadai sama Majlis Zikir Tazkirah di kota medan, dan kami ada 5 orang tuh ( aku, veni, parida, fii, dan nuris ) ditempati di daerah Dolok Masihul tepatnya di desa martebing… banyak menambah pengalamanku dengan masyarakat sekitar.
 heemmm...
banyakkan, masih banyak lagi sebenernya, tapi laen waktu yaa